Penduduk Aceh Timur Dapat POPM Filariasis

IDI | SNN – Sebanyak 85 persen dari total jumlah penduduk di 24 kecamatan dalam Kabupaten Aceh Timur, menjadi sasaran Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis (Obat Kaki Gajah).

Pemberian itu bertujuan untuk mencegah masyarakat dari ancaman penyakit kaki gajah. “Untuk Aceh Timur tahun ini masuk dalam tahun kedua setelah dilakukan pemberian obat kaki gajah tahun 2016 lalu,” kata Sekda Aceh Timur, M. Ikhsan Ahyat, S.STP, M.AP, Minggu (15-10-2017).

Menurutnya, sasaran POPM Filariasis itu adalah masyarakat yang berusia 2-70 tahun. Dosisnya 1 tablet untuk anak usia 2-5 tahun, kemudian 2 tablet untuk anak 6-15 tahun serta 3 tablet untuk orang usia 16-70 tahun. “Yang tidak menjadi sasaran yaitu ibu hamil, ibu menyusui (usia bayi dibawah 6 bulan) dan orang dewasa lanjut usia (lansia) yang usianya diatas 70 tahun serta penderita penyakit kronis,” kata M. Ikhsan Ahyat.

Untuk menyukseskan program tersebut, Sekda Aceh Timur mengharapkan masyarakat mengkonsumsi tablet yang diberikan secara gratis itu dengan tujuan mencegah penyakit kaki gajah. “POPM Filariasis ini akan diberikan setahun sekali dan akan berlangsung hingga tahun 2020,” kata M. Ikhsan Ahyat.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Timur, H. Kamarullah, SKM, M.Kes, melalui Kabid P2P, dr. H. Zulfikry, menambahkan, sesuai dengan jadwal yang sudah diedarkan, POPM Filariasis akan berlangsung mulai dari 16 Oktober hingga 8 November 2017. “Pemberian obat kaki gajah ini akan dipusatkan di 27 titik dalam 24 kecamatan se-Kab. Aceh Timur,” katanya.

Selain disetiap UPT Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada ditiap-tiap kecamatan, lanjut Zulfikry, POPM Filariasis tersebut juga dipusatkan ditiga UPT Puskesmas Matang Pudeng (Pante Bidari), Puskesmas Lubok Pempeng (Peureulak) dan Puskesmas Perkebunan Inti di Kecamatan Indra Makmur,” kata dr. H. Zulfikry seraya mengaku, sebagai langkah awal pihak Dinkes sudah melakukan POPM disekolah-sekolah.

Ditambahkan, saat ini di Kabupaten Aceh Timur terdapat 67 orang penderita kaki gajah. Hasil survey yang dilakukan Kemenkes RI beberapa waktu lalu didaereah itu masih ditemukan microfilaria dalam darah sebagian masyarakat Aceh Timur, sehingga hal itu dinilai berpotensi terjadi peningkatan kasus. “Oleh karenanya perlu dilakukan upaya pencegahan dengan POPM Filariasis selama lima tahun dengan target tahun 2020 Aceh Timur bebas dari penyakit filariasis,” tutup dr. H. Zulfikry. (yns/torong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *