Berawal dari Facebook, Dua Perusahaan Besar di Kaltim Biayai Pelatihan Pembelajaran Aktif MIKIR

Advertisement

Berawal dari Facebook, Dua Perusahaan Besar di Kaltim Biayai Pelatihan Pembelajaran Aktif MIKIR

Rabu, 10 April 2019

Kalimantan Timur | SNN  - Pelatihan pembelajaran aktif Tanoto Foundation yang menggunakan skenario MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi) selama ini banyak diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Kemenag daerah mitra seperti Kukar dan Balikpapan. Sebagai Mitra Tanoto Foundation, mereka melatihkan ke pendidik yang bukan target sasaran langsung program. Jumlah pesertanya  pada tahun 2019 bahkan mencapai 695  orang terdiri dari kepsek, guru dan pengawas. 

Namun ternyata bukan entitas pemerintah saja yang tertarik untuk menyebarluaskan. Dua perusahaan besar pertambangan batu bara yaitu Indominco Mandiri dan sub contractornya Pama Persada, baru-baru ini ikut berperan membiayai pelatihan pembelajaran aktif tersebut. Pelatihan kali  diikuti  81 guru yang berasal dari desa Santan Tengah dan Santan Ilir di Marrangkayu, Kutai Kartenegara, Kaltim.

Menariknya, diseminasi ini terjadi karena ada seorang guru yang melihat postingan-postingan pembelajaran oleh guru-guru yang pernah dilatih oleh Tanoto Foundation di Facebook. Nama ibu itu adalah Kartini, ketua Kelompok Kerja Guru di Marrangkayu. “Jadi saya bergabung dengan grup Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan di Facebook, dan saya sangat tertarik dengan model pembelajaran-pembelajaran yang membuat siswa aktif, kreatif dan inovatif yang diposting disitu yang selama ini belum banyak kami lakukan,” ujarnya,Rabu (10-04- 2019).

Dia kemudian menghubungi salah satu fasilitator daerah Tanoto Foundation di Marrangkayu, Nanang Nuryanto, melihat kemungkinan pelatihan untuk guru-guru di Marrangkayu. Setelah mendapatkan kepastian pelatihan bisa dilakukan,  ia mengajukan proposal pembiayaan ke Indominco. Proposal tersebut dengan cepat disetujui. Indominco  menalangi bagian konsumsi pelatihan, dan perusahaan sub contractornya yaitu PAMA Persada membiayai bagian honor fasilitator.

“Biasanya persebaran pelatihan pembelajaran aktif PINTAR  diusulkan oleh Kemenag, Dinas Pendidikan atau UPT, nah kali ini benar-benar digagas oleh guru, terutama olehi bu Kartini. Mereka ingin mengubah metodologi mengajar mereka yang selama ini lebih banyak klasikal atau ceramah, ke yang membuat siswa memiliki skill yang dibutuhkan untuk menghadapi era industry 4.0, “ ujar Nanang Nuryanto.

Keberhasilan Pelatihan

Pelatihan  yang dilakukan, menurut para peserta, membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah tiga hari menjalani pelatihan dan praktik langsung di sekolah, guru-guru merasa memiliki ketrampilan mengajar yang baru. “Selama mengikuti pelatihan, saya merasa dapat paling banyak ilmu disini. Membuat lembar kerja dan rencana pembelajaran bisa hanya dengan acuan dari kompetensi dasar atau KD, tanpa  melihat buku teks lagi. Padahal sebelumnya saya selalu tergantung buku teks,” ujar ibu Hasnah, salah satu peserta.

Pada pelajaran IPA, Siswa-siswa SD 015 Marrangkayu diminta membuat mobil-mobilan, gasing dan dan pinang pusing atau berputar,   sambil mengidentifikasi dan melaporkan tentang hubungan pengaruh gaya dan gerak. Ratna, guru yang mengajar praktik pada pelajaran tersebut, ketika refleksi, merasa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa setelah pelatihan, bahkan ia bercerita sambil menangis. “Dengan pembelajaran ini, anak-anak benar-benar menjadi aktif, mereka benar-benar terlibat dan  mengalami langsung. Kenapa ya pembelajaran dari dahulu tidak seperti ini,” ujar  guru dari SD 015 tersebut.

Siswa kelas 5 di SDN 015 Marrngkayu juga  berhasil mengidentifikasi pengaruh limbah terhadap lingkungan.  Siswa membuat percobaan memasukkan ikan ke berbagai media air yang dicampuri dengan minyak jelantah, rinso dan lain-lain. Mereka membuat laporan dan presentasi tentang hasil percobaan tersebut.

Bahkan Ibu Kartini, penggagas diadakannya pelatihan ini, ingin juga nanti menyelenggarakan pelatihan modul 2 program PINTAR. “Pembelajaran aktif ini berhasil membuat siswa mengalami dan mengeksplorasi potensi siswa. Kami penasaran seperti apa modul II. Karena modul satu ini saja memberikan kami banyak pengetahuan baru,” ujarnya

Community Development Officer PT Indominco, Sulaiman, walaupun ingin melihat capaian lebih jauh,  mengatakan perusahaan siap untuk mendanai pelatihan modul II. “Kami siap membiayai lebih jauh kalau dampak positifnya nyata di lapangan dan isi dari modul II itu jelas sasarannya,” ujarnya.

Tulus Sutopo, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara sangat menghargai kontribusi dua perusahaan tersebut. “Kita patut berterima kasih pada perusahaan-perusahaan yang perduli dengan peningkatan kualitas pendidikan di Kukar. Model ini bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya di kecamatan lainnya di  wilayah Kukar,” katanya./rel)